Demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif (Ekraf), pemerintah terus menggalakkan berbagai sektor kreatif Indonesia. Salah satunya adalah desa wisata yang dapat mengikuti ajang penghargaan ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia).
Sebanyak 6.016 desa wisata di seluruh Indonesia mengikuti ajang penghargaan ini. Namun, yang perlu Anda ketahui adalah klasifikasi yang dapat menentukan apakah desa tersebut merupakan desa wisata. Anda dapat mengetahui informasinya di bawah ini!
4 Klasifikasi Desa Wisata untuk Bangun Ekonomi Kreatif Negara

Walaupun klasifikasi tersebut digunakan untuk perlombaan, tidak ada salahnya untuk Anda tahu klasifikasi desa-desa wisata di Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, penting untuk Anda tahu ciri khas masing-masing desa dari klasifikasi ini.
Lebih penting lagi bahwa desa wisata merupakan salah satu potensi pembangunan Ekraf dalam negeri. Berikut ini klasifikasi desa wisata yang dapat Anda ketahui, antara lain:
1. Desa Wisata Rintisan
Klasifikasi desa wisata paling pertama ada desa wisata rintisan. Ini merupakan desa wisata yang baru mulai beroperasi dalam lingkungan terbatas. Di dalam desa wisata ini, Anda dapat menikmati keindahan alami khas laut yang jernih dan terumbu karang yang indah.
Ciri desa wisata rintisan tidak hanya dalam hal tahapan pembangunan yang masih awal, tetapi juga sarana yang masih terbatas. Namun, peran pemerintah dalam meningkatkan ekonomi kreatif tidak menutup kemungkinan desa wisata ini dapat naik level klasifikasi. Semua hanya perlu kerjasama masyarakat dan pemerintah setempat.
2. Desa Wisata Berkembang
Desa wisata berkembang masuk klasifikasi berikutnya yang mana kategori ini sudah memiliki ciri-ciri yaitu kondisi sarana prasarana yang stabil dan kepengurusan yang jelas. Selain itu, terciptanya lapangan kerja yang stabil untuk masyarakat setempat.
Contoh dari desa wisata berkembang adalah Desa Wisata Aik Berik yang memiliki hutan-hutan indah dan dilindungi. Bahkan desa wisata di bawah kaki Gunung Rinjani ini sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Geologi dan Cagar Biosfer.
3. Desa Wisata Maju
Klasifikasi ketiga adalah desa wisata maju yang sudah berperan aktif dan signifikan bagi perekonomian warga dan negara. Ekonomi kreatif desa wisata maju cenderung lebih masif, mulai dari pengunjung yang jumlahnya stabil dan kondisi pembangunan sekitarnya.
Pengelolaan yang terstruktur menjadi ciri desa wisata maju yang dihasilkan dari kerjasama pemerintah dan masyarakat setempat. Aspek kesadaran masyarakat untuk mempromosikan desa wisata juga sudah berkembang. Salah satu contoh desa wisata maju adalah Pulau Derawan di Kalimantan Timur. Pulau yang terdiri dari gugusan pulau ini tidak hanya indah dikunjungi. Namun, konservasi dan habitat penyu hijau juga gilakkan.
4. Desa Wisata Mandiri
Terakhir, ada desa wisata mandiri yang sesuai dengan namanya, ditujukan bagi desa wisata yang sudah memiliki pengunjung dari lingkup lebih luas seperti turis internasional. Umumnya, desa wisata mandiri sudah terkenal secara lingkup internasional.
Ciri lain dari desa wisata mandiri ini adalah masyarakat yang sudah mampu secara mandiri mengelola wisata sekitar. Selain itu, tingkat kreativitas dan inovasi juga lebih tinggi. Contoh desa wisata mandiri adalah Desa Wisata Krebet di Yogyakarta.
Itulah informasi singkat yang dapat Anda ketahui terkait klasifikasi desa wisata yang masuk penghargaan ADWI. Sampai sekarang, pemerintah masih menggalakkan perkembangan desa wisata sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan perekonomian dalam sektor kreatif.
Jika Indonesia memiliki banyak desa wisata yang berstandar nasional maupun internasional, ekonomi kreatif dalam negeri dapat meningkat dan tentu berpengaruh pada pendapatan negara dari aspek wisata.
Baca Juga : Bak Surga Dunia, Ini Pesona Wisata Alam Hulunbuir Grassland
